Konsep Pembentukan Harga Saham di Pasar

Konsep Pembentukan Harga Saham di Pasar

Di Artikel kali ini, kita akan belajar mengenai konsep pembentukan harga saham di pasar. Anda barangkali bertanya mengapa harga saham bisa bergerak naik dan turun atau bergerak konsolidasi. Dengan memahami konsep mengapa harga saham bergerak naik atau turun, kita bisa melakukan analisa apakah saham tersebut layak untuk dibeli atau tidak.

Pada dasarnya konsep pembembentukan harga itu sangat sederhana. Pergerakan harga di pasar pada prinsipnya terbentuk karena hukum permintaan dan penawaran. Umumnya sebelum jam bursa saham dibuka, para pelaku pasar sudah mulai memasang order jual dan order beli pada saham yang di incar. Dari sinilah harga saham mulai terbentuk setiap harinya sampai jam penutupan pasar.

Pembentukan harga saham di pasar modal Indonesia tidak ada bedanya dengan konsep terbentuknya harga di pasar konvensional pada umumnya. Yaitu bertemunya kepentingan penjual dan pembeli, adanya harga jual dan harga beli. Di pasar Saham harga jual disebut Offer dan harga beli disebut Bid/ask.

Pembentukan harga saham dapat tercermin dengan jelas melalui grafik harga saham. Kalau grafik bergerak naik maka saham tersebut memiliki permintaan yang tinggi dan sebaliknya jika bergerak turun artinya adanya tekanan jual yang tinggi. Candlestick adalah grafik yang lazim dipakai untuk melihat pergerakan harga saham.

Baca Juga : Cara Membaca Candlestick dengan Cepat dan Mudah

5 Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Harga Saham di Pasar

Hukum permintaan penawan harga saham di pasar umumnya dipengaruhi oleh 5 Faktor. Faktor ini memicu berbagai psikologis dari pelaku pasar, ada yang merespons postif atau negatif. Tergantung kepentingan dan analisa masing-masing pelaku pasar yang diwujudkan dalam aksi jual dan beli di pasar yang menjadi pemicu pembentukan harga saham :

1. Fundamental Perusahaan

Harga saham akan mengikuti kinerja suatu perusahaan terbuka. Ini adalah basic dasar yang mempengaruhi harga saham di pasar. Jika kinerja perusahaan baik yang tercermin dalam peningkatan profit, cepat atau lambat harga saham pasti akan mengikuti.

Fundamental perusahaan yang baik akan mendorong investor untuk membeli saham perusahaan tersebut, tentu harga sahamnya juga akan bergerak naik.

2. Aksi Korporasi perusahaan

Aksi korporasi maksudnya kebijakan yang diambil perusahaan untuk tujuan tertentu yang berdampak langsung kepada para pemegang saham. Aksi korporasi misalnya seperti merger, stock split, right issue, pembagian deviden dan sebagainya.

Salah satu contoh terbaru aksi korporasi perusahaan adalah rencana merger seluruh bank Syariah BUMN yaitu PT BRI Syariah (BRIS), PT Bank Mandiri Syariah dan PT BNI Syariah. Berita ini membuat harga saham BRIS naik signifikan bahkan hingga menyentuh Auto Reject Atas (ARA).

Ada juga aksi korporasi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) yang mengakuisisi Pinehill Company Limited. Keputusan ini berdampak harga saham ICBP terjun bebas selama berhari-hari dikarenakan beberapa investor tidak setuju dengan keputusan perusahaan ini.

3.  Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah juga bisa berimbas pada harga saham. Yaitu kebijakan yang berdampak terhadap kinerja perusahaan baik dalam jangka waktu dekat, menengah atau Panjang.

Contoh kebijakan yang dianggap merugikan kinerja perusahaan adalah kenaikan cukai rokok. Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan kenaikan cukai rokok sebesar 23%. Kenaikan ini akan berdampak pada laba perusahaan, yang berakibat biaya atau beban yang dihasilkan dari cukai yang meningkat akan menggerus laba perusahaan.

Akibatnya setelah diumumkan harga saham emiten rokok (GGRM dan HMSP) anjlok puluhan persen dalam beberapa hari (16 September 2019). Kapitalisasi pasar kedua emiten itu pun menyusut puluhan triliun rupiah hanya waktu sehari saja.

4.  Psikologi pasar

Psikologi pasar dapat diartikan reaksi para pelaku pasar terhadap kondisi tertentu. Wujud dari psikologi itu biasanya dapat berupa euforia, kecemasan dan ikut-ikutan dari pelaku pasar terhadap aksi jual beli di pasar saham yang tentu berdampak pada pembentukan harga saham.

Contoh bentuk psikologi pasar yang masih berdampak saat ini adalah kejatuhan pasar saham di awal bulan Maret akibat virus corona yang merata di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dampak virus ini membuat investor ramai-ramai menjual sahamnya termasuk saham-saham yang tergolong blue chip. Perdagangan saham sampai dihentikan (trading halt) berulang kali karena IHSG anjlok sampai 5% dalam satu hari.

5.  Bandar Saham

Tidak bisa dipungkiri di pasar saham ada banyak market maker yang biasa disebut bandar yang bermain untuk membentuk harga saham sesuai yang mereka inginkan. Kondisi pembentukan harga saham seperti ini terkesan tidak murni, tetapi ya begitulah pasar saham. Oleh karena itu Anda harus punya trading plan yaa.

Baca juga : 5 Rahasia Super Sukses Profit dipasar Saham Khusus Pemula !

Agar lebih memahami konsep pembentukan harga saham di pasar, apa itu bid dan offer maka tonton video di bawah :

sumber : https://www.youtube.com/watch?v=eiq7JRPzPsM&t=76s

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment