4+ Cara Sederhana Analisis Fundamental Perusahaan

fundamental analysis 1

Pertama, fakta yang anda harus ketahui di Indonesia terdapat lebih dari 600 perusahaan yang telah mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia (BEI) per September 2020 artikel ini ditulis dan tentunya jumlah ini akan terus bertambah.

Sehingga pertanyaan yang muncul adalah  perusahaan mana yang anda pilih untuk di investasikan ? Jawabannya akan terjawab pada pembahasan artikel kali ini.

Sebelum kita membahas ke empat analisis fundamental perusahaan, anda harus mengerti dahulu apa itu analisis fundamental. Jadi, analisis fundamental adalah analisa saham berdasarkan pada kinerja perusahaan. Analisis fundamental banyak menggunakan data-data yang berasal dari laporan keuangan perusahaan yang diolah untuk menilai apakah perusahaan tersebut memiliki kesehatan yang baik atau tidak.

Teknik analisis fundamental ini sangat cocok untuk para investor jangka panjang. Tidak banyak pelaku pasar saham yang menggunakan analisis ini karena harus menguasai laporan keuangan dan perlu kesabaran untuk menahan saham dalam jangka panjang.

Baca Juga : Rahasia Memahami 5 bagian Laporan Keuangan bagi Investor

4 Analisis fundamental sederhana untuk menilai saham perusahaan :

1. Analisis pertumbuhan

Saham  itu bisa ada karena ada bisnis dibelakangnya, jadi jika ingin melihat bisnis itu berjalan baik atau tidak adalah saat perusahaan bisa menghasilkan keuntungan atau malah kerugian. Pastinya perusahaan yang bagus adalah yang memiliki pertumbuhan postif dari tahun ke tahun.

Yang penting diperhatikan dalam analisis fundamental ini ada beberapa yaitu, pertumbuhan penjualan, pertumbuhan laba kotor, pertumbuhan laba operasi dan yang terakhir adalah pertumbuhan laba bersih.

#Pertumbuhan penjualan

Pertumbuhan penjualan

Tips : semakin tinggi angkanya semakin baik

#Pertumbuhan laba kotor

pertumbuhan laba kotor

Tips : semakin tinggi angkanya semakin baik

#Pertumbuhan laba operasi

pertumbuhan laba operasi

Tips : semakin tinggi angkanya semakin baik

#Pertumbuhan laba bersih

pertumbuhan laba bersih

Tips : semakin tinggi angkanya semakin baik

Sebagai contoh sederhana, mari kita ilustrasikan PT Cuan, Tbk di bawah ini :

analisis fundamental : analisis pertumbuhan

Analisa pertumbuhan dari ilustrsi di atas dapat di simpulkan memiliki pertumbuhan yang positif pada tahun 2019 dibanding tahun sebelumnya yaitu 2018. Penjualan perusahaan mampu tumbuh 10% di tahun 2019, karena penjualan adalah ujung tombak dari sebuah perusahaan oleh karena itu pertumbuhan penjualan harus tumbuh positif dari tahun ke tahun.

Sedangkan laba kotor tumbuh 9%. Jika di cermati lebih dalam, pertumbuhan laba kotor yang lebih kecil dari penjualan. Ini artinya biaya produksi (HPP) untuk membuat suatu produk lebih tinggi di banding dengan dengan kenaikan pertumbuhan penjualan.

Selanjutnya bergeser ke laba operasi yang tumbuh 14% lebih tinggi dari pertumbuhan laba kotor yang sebesar 9% artinya adanya efisiensi biaya operasi dimana perusahaan dapat menjaga kenaikan biaya biaya operasinya.

Yang terakhir adalah laba bersih dapat tumbuh 11,6%, tentu hal ini merupakan hal postif selama laba bersih bertumbuh. Akan tetapi jika kita selidiki lebih mendetail pertumbuhan laba bersih lebih kecil dari pada laba operasi, kita dapat mengetahui penyebabnya ini bisa terjadi dengan melihat pertumbuhan pendapatan lain-lain, beban lain-lain, atau pajak. Kita dapat memeriksa detail rinciannya dari catatan atas laporan keuangan perusahaan.

2. Analisis Profitabilitas

Profitabilitas artinya kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Rasio ini sangat penting bagi investor untuk melihat kinerja suatu perusahaan seperti mengukur efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba.

Dalam analisis profitabiltas, ada beberapa rasio yang digunakan untuk mengukur profitabiltas perusahaan. Tetapi disini saya hanya akan membahas dua rasio saja yang sering dipakai oleh para investor tetapi powerful banget.

#Return on Asset (ROA)

Return on assets adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan memanfaatkan aset yang dimilikinya. Semakin tinggi nilai ROA akan semakin baik kinerja perusahaan. Rasio ROA dihitung dengan membandingkan laba bersih dengan total aset perusahaan.

return on asset (ROA)

Tips : semakin tinggi angkanya semakin baik

#Return on Equity (ROE)

Return on equity adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari tota modal atau ekuitas yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi nilai ROE, akan semakin baik kinerja perusahaan. Rasio ROE dihitung dengan membandingkan laba bersih dengan total ekuitas perusahaan.

return on equity (roe)

Tips : semakin tinggi angkanya semakin baik

Sebagai contoh, disini saya akan menngunakan laporan keuangan Unilever (kode saham: UNVR) untuk tahun 2019 :

 

analisis fundamental : analisis pertumbuhan

Dengan melihat data laporan keuangan Unilever diatas, kita bisa menghitung rasio ROA dan ROE adalah sebesar 35,8% dan 139,9%.

ROA : 7.392.837/20.649.371*100% = 35,8%
ROE : 7.392.837/5.281.862*100% = 139,9%

ROA 35,8% artinya, setiap 1 miliar rupiah dari aset unilever bisa menghasilkan 358 juta rupiah untuk satu tahun periode. Di sisi yang lain ROE 139,9% memberi makna kepada kita bahwa setiap 1 miliar modal yang dimiliki Unilever bisa menghasilkan keuntungan 1,39 miliar untuk periode setahun. Saya rasa ini sungguh luar biasa!

Sebagai informasi untuk anda produk unilever sudah memiliki brand yang sangat kuat dan bisa dibilang menjadi kebutuhan dasar bagi masyarakat Indonesia. Biasanya perusahaan yang bagus seperti ini sulit untuk dimiliki saham karena harga yang terlalu mahal. Inilah mengapa meskipun Unilever perusahaan yang sangat baik saya tidak pernah mau membeli sahamnya. Mahal, hehe..

3. Analisis Utang

Sebagai seorang investor anda pasti ingin berinvestasi di perusahaan yang sehat dan kuat bukan ? Dengan analisis fundamental utang, investor dapat menilai  tingkat kesehatan keuangan perusahaan. Salah satu rasio utang yang umum digunakan adalah DER (Debt to Equity Ratio) yakni dengan membandingkan total utang perusahaan dengan total modal atau ekuitas perusahaan.

Debt to Equity rasio (DER)

Tips : semakin kecil angkanya semakin baik

Kita kembali akan mengambil contoh perusahaan Unilever untuk perhitungan DER di bawah ini :

analisis fundamental : analisis utang

Dari laporan keuangan diatas dapat dihitung jumlah DER Unilever adalah 2,9 kali.

DER : 5.281.862/15,367,509 = 2,9

DER 2,9 kali artinya perusahaan Unilever memiliki utang 2,9 kali lipat lebih besar jika dibanding modal atau ekuitasnya. Jika modal Unilever sebesar 1 miliar maka utangnya mencapai 2,9 miliar. Apakah dengan DER 2,9 kali bisa dibilang Unilever perusahaan yang tidak sehat ? jawabannya bisa iya juga bisa tidak.

DER yang tinggi tidak berarti perusahaan memiliki utang yang buruk. Ada industri tertentu yang memiliki rasio utang yang tinggi seperti perbankan dan perusahaan multifinance, karena usahanya memang pinjam-meminjam uang. Namun sebagai patokan, DER dibawah 1 kali cukup baik, artinya jumlah utang lebih kecil di banding modal yang di punyai perusahaan.

Sementara untuk kasus Unilever ini jika kita cek lebih mendalam pada laporan keungannya, utang tersebut bersal dari utang jangka pendek. Kita harus pahami bahwa utang jangka pendek yang ditimbulkannya adalah akibat perusahaan memproduksi produk yang lebih banyak maka utang jangka pendeknya juga ikut membesar.

Contoh utang jangka pendek Unilever adalah utang usaha, utang pajak, beban yang masih harus dibayar dan lainnya yang tempo pelunasannya harus dibawah satu tahun.

Jadi kesimpulannya utang jangka pendek yang dimiliki Unilever tidak terlalu berbahaya, yang berbahaya itu utang jangka Panjang karena berpotensi menggerogoti laba perusahaan.

4. Analisis Harga Saham

Sebelum mengambil keputusan untuk berinvestasi di suatu perusahaan anda harus bisa menilai harga saham perusahaan tersebut sudah terlalu mahal atau masih murah.

Meskipun sebuah perusahaan memiliki fundamental yang baik, akan tetapi jika harga sahamnya terlalu mahal belum tentu saham itu menjadi pilihan investasi yang terbaik. Untuk itu lah kita mempelajari analisis fundamental ini, yaitu harga saham.

Dua rasio harga saham dasar yang anda harus pahami sebagai investor sebelum memutuskan membeli saham yaitu : PBV (Price to Book Value Ratio) and PER (Price to Earning Ratio).

#PBV (Price to Book Value Ratio)

Rasio PBV ini dihitung dengan membandingkan harga saham per lembar dengan nilai buku (book value) per lembar saham. Sedangkan untuk mendapatkan nilai buku (Book Value) adalah dengan membagi total ekuitas atau modal dengan jumlah saham yang beredar.

Price to book value (PBV)
Tips : semakin rendah rasio PBV, maka saham semakin murah

#PER (Price to Earning Ratio)

Rasio PER ini dihitung dengan membandingkan harga saham di pasar dengan laba bersih per saham atau biasa disebut EPS (earning per share). Sedangkan untuk mendapatkan EPS (earning per share) adalah dengan membagi laba bersih dengan jumlah saham beredar.

Price to Earning Rasio (per)
Tips : semakin rendah rasio PER, maka saham semakin murah

Untuk menghitung rasio PBV dan PER kita akan kembali mengambil contoh laporan keuangan perusahaan Unilever periode kuartal ke-II 2020 dibawah ini :

analisis fundamental : Analisis harga saham

Dari laporan keuangan diatas dapat dihitung jumlah PBV Unilever adalah 34,32 kali dengan harga saham Unilever per 25 September 2020 Rp 7.925,-

Nilai buku (book value) : 8.807.885.000.000/38.150.000.000 = 230,87
PBV : 7925/230,87 = 34,32

PBV 34,32 artinya perusahaan Unilever menjual sahamnya 34 kali lebih mahal dibanding nilai buku yang dimiliki perusahaan tersebut. Unilever bisa mencatatkan PBV hingga 34 kali lipat karena brand produk ini sudah sangat kuat dipasaran. Seperti saya sudah katakan sebelumnya, ini lah alasan saya tidak pernah mau membeli saham Unilever. Bukan karena bisnisnya tidak menarik tetapi karena harga sahamnya yang sangat mahal.

Sebagai informasi saham Unilever (kode : UNVR) baru stock split per 2 Januari 2020 dengan rasio 1:5 alasannya agar sahamnya bisa terjangkau investor ritel seperti kita-kita ini, hehe.  Coba bayangkan betapa mahalnya saham Unilever sebelum melakukan stock split.

Selanjutnya untuk PER dari Unilever adalah 41,75 kali dengan EPS yang disetahunkan sebesar 189,74

Earning per share (EPS) : 3.619.635.000.000/38.150.000.000 = 94,87
PER : 7925/189,74 = 41,75
***EPS disetahunkan 94,878*2 = 189,74

PER 41,75 kali artinya harga saham Unilever 41,7 kali lebih tinggi dibanding dengan keuntungan yang dihasilkan per lembar sahamnya. Sedangkan EPS 189,74 artinya selembar saham Unilever bisa mengasilkan untung sebesar 189,7 rupiah untuk periode setahun. PER semakin kecil itu semakin baik, secara rata-rata PER yang ideal itu di bawah 10.

Dari ke empat analisis fundamental tersebut, masing- masing perusahaan memiliki kekuatan dan kelemahan. Ada perusahaan yang bagus di sisi pertumbuhan laba, tetapi lemah di struktur utangnya. Ada perusahaan yang laba selalu bertumbuh tetapi harga sahamnya tertalu mahal dan begitu juga sebaliknya.

Tetapi paling tidak anda sudah paham dasar analisa yang sering dipakai untuk menilai sebuah perusahaan sebelum berinvestasi agar terhindar dari yang namaya membeli kucing dalam karung. 

Baca juga : Ikuti Tahapannya ! Cara Memulai Investasi Saham [Terlengkap]

Sumber Referensi :
Budiman, Raymond. 2018.Rahasia Analisis Fundamental Saham. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Putra, Andika Sutoro. 2018.Anak Muda Miliarder Saham. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Sumber Gambar :
Chart : https://www.idx.co.id/
Image : https://pixabay.com/

Share

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment